Di sekitar kita, vape sudah mulai banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak jarang vape dijadikan sebagai pengganti rokok karena mudah dibawa dan lebih murah. Tetapi bukannya vape bahaya, ya? Banyak yang bilang vape dapat merusak paru-paru. Lalu, apa bedanya dengan rokok?

Vape menjadi cara untuk beralih dari rokok bagi mereka yang mengalami kesulitan untuk berhenti. Dengan risiko yang lebih sedikit, vape membantu mengurangi bahaya bagi pengguna yang masih ingin mengonsumsi nikotin, dengan demikian ada kampanye yang disebut sebagai pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction/THR). Berbeda dengan rokok, vape tidak mengandung bahan-bahan berbahaya seperti TAR dan asap yang dihasilkan dari pembakaran. Walau begitu, tetap aja banyak orang bilang vape bahaya. Tolong dicermati ya guys, faktanya vape justru lebih rendah risiko dari produk tembakau konvensional.

Di negara-negara maju, vape justru telah menunjukkan kemajuan dalam menurunkan persentase pengguna rokok dengan beralih menggunakan vape, di antaranya terdapat Selandia Baru, Swedia, Jepang, Inggris, dan Norwegia. Kebijakan yang mereka terapkan juga serupa dengan kampanye THR dengan tidak membatasi konsumen mengakses vape (namun tetap dengan regulasi usia dan kandungan) (Beaglehole dan Bonita, 2024). Nah, Indonesia jangan mau kalah dengan negara maju, apalagi pengguna vape di Indonesia merupakan yang terbanyak di dunia. Maka dari itu, penelitian yang mengupayakan momentum ini sebagai langkah transisi ke produk yang lebih minim risiko harus dilakukan, sehingga kita semua sadar kalau vape tidak seberbahaya yang diberitakan.