Budaya minum kopi menjadi salah satu hal yang semakin umum ditemui di masyarakat. Konsumsi kafein ini biasanya dibutuhkan untuk meningkatkan konsentrasi saat bekerja. Tingginya konsumsi kafein pada akhirnya membuat banyak orang mengalami ketergantungan terhadap kafein. Mereka yang tidak mendapat asupan kafein seperti kebiasaan sehari-hari umumnya akan merasa kurang fokus dan memilih untuk terus mengonsumsi kafein.

Menyadari bahwa konsumsi kafein yang berlebihan bisa berdampak negatif dan bahwa berhenti sepenuhnya mungkin sulit, beberapa orang memilih untuk beralih ke produk kafein dengan risiko yang lebih rendah. Anjuran untuk mengonsumsi kopi tanpa gula, hingga menyuarakan batas maksimal kafein yang bisa dikonsumsi dalam satu hari pun dilakukan. Peralihan bentuk konsumsi ini juga bisa diterapkan dalam konsumsi nikotin.

Masyarakat perlu menyadari bahwa nikotin dan kafein sebenarnya memiliki persamaan. Kedua kandungan tersebut rutin dikonsumsi oleh masyarakat dan bisa menimbulkan adiksi. Perbedaannya, kandungan nikotin, terutama dalam produk tembakau, sering kali dikaitkan dengan berbagai macam penyakit termasuk kanker. Padahal, belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahaya nikotin tersebut. 

Swedia Dorong Konsumsi Produk Tembakau Alternatif

Berbicara tentang nikotin, mari kita lihat bagaimana Swedia memiliki tingkat kanker dan kematian akibat tembakau yang lebih rendah daripada negara-negara Eropa lainnya meskipun memiliki tingkat konsumsi nikotin yang hampir sama. Berdasarkan data Smoke Free Sweden, di Swedia, satu dari empat orang mengonsumsi nikotin secara rutin—angka yang sama seperti keadaan di negara-negara lain di Eropa. Sementara negara-negara Eropa lainnya memiliki persentase total penggunaan nikotin sebesar 24,9%, dengan persentase total penggunaan nikotin Swedia berada pada angka 23,6%. 

Meskipun konsumsi nikotin yang hampir setara, persentase insiden kanker di Swedia lebih rendah 41% dari rata-rata Eropa. Angka kematian yang disebabkan oleh tembakau di negara tersebut juga kurang dari setengah dari apa yang dialami 24 dari 26 negara Uni Eropa. Mengapa demikian?

Kesenjangan ini timbul karena perbedaan signifikan dalam proporsi konsumsi nikotin antara Swedia dan negara-negara Eropa lainnya. Dari total konsumsi nikotin sebesar 24,9% di negara-negara Eropa lainnya, sekitar 23,5% berasal dari rokok. Sebaliknya, di Swedia, konsumsi rokok hanya mencapai 5,6%, dengan 18% lainnya menggunakan produk alternatif tembakau.

Manfaat dari penurunan prevalensi merokok di negara Swedia pun dirasakan oleh masyarakat. Peralihan konsumsi rutin nikotin dengan  produk alternatif produk tanpa asap, seperti snus, vape, kantong nikotin oral, dan perangkat berbahan bakar panas lainnya memungkinkan konsumen untuk menggunakan nikotin dengan cara yang rendah risiko.

Perlunya pengurangan dampak buruk konsumsi nikotin bisa diatasi dengan adanya produk alternatif yang bebas asap. Pengaturan yang tepat, termasuk nikotin, bisa membuat pemanfaatannya semakin berdampak. Mengingat konsumen nikotin akan selalu ada, maka mempertimbangkan produk nikotin selain rokok harus dipilih sebagai salah satu cara yang dapat membuat perokok keluar dari potensi terkena penyakit.