Banyak anggapan miring tentang vape yang diyakini orang-orang. Padahal, mitos-mitos tersebut bukanlah kebenaran yang terjadi.

Sumber gambar: https://www.shutterstock.com/id/image-vector/continuous-line-drawing-hand-holding-ecigarette-2546055605
Mitos #1: Vape sama bahaya dengan rokok
Fakta ini salah karena dalam beberapa penelitian, vape terbukti lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok. Temuan para ahli di Inggris pada 2022 lalu menunjukkan bahwa vape hanya menimbulkan sebagian kecil risiko dari merokok dalam jangka pendek dan menenganh. Megapa bisa begitu? Rokok konvensional mengandung hingga 7.000 bahan kimia, dan banyak di antaranya beracun karena rokok konvensional melalui proses pembakaran dengan keluaran asap. Proses ini juga memicu adanya tar yang membawa dampak buruk bagi tubuh.
Sementara, rokok elektronik hanya melalui proses pemanasan untuk menciptakan aerosol dan tidak menghasilkan asap. Orang-orang yang beralih sepenuhnya dari merokok ke vaping memiliki paparan yang lebih rendah terhadap racun yang dikaitkan dengan risiko kanker, penyakit paru-paru, penyakit jantung, dan stroke.
Vape terbukti lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok
Mitos #2: Paparan terhadap uap vape sama berbahaya dengan asap rokok
Meskipun asap rokok pasif dapat membahayakan orang lain, sejauh ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa uap vape berbahaya bagi orang-orang di sekitar. Seperti disebutkan sebelumnya, tanpa proses pembakaran, paparan uap yang dihasilkan pun memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan asap rokok.
Perlu diingat pula, sebagai tindakan pencegahan, sebaiknya jangan melakukan vaping di sembarang tempat. Pastikan berada di lokasi yang terbuka dan bukan di dekat bayi atau anak-anak.
Mitos #3: Vaping tidak membantu orang berhenti merokok
Keberadaan vape pada awalnya diciptakan sebagai salah satu alternatif yang ditujukan untuk membantu pengguna berhenti merokok. Seperti banyak terjadi, tidak semua orang bisa langsung menghentikan kebiasaan merokok sehingga membutuhkan proses peralihan sebelum akhirnya benar-benar berhenti merokok. Di sinilah vape hadir sebagai produk alternatif.
Vaping menjadi salah satu cara yang efektif dalam membantu perokok berhenti merokok karena sebagian orang merasa gerakan ketika menghirup vape mirip seperti kebiasaan saat merokok. Adanya gerakan tangan ke mulut seperti merokok, ditambah adanya sensasi serupa, menjadikan orang-orang pelan-pelan beralih dan akhirnya berhenti merokok.
Mitos-mitos ini membuat banyak pihak beranggapan bahwa produk alternatif sama berbahayanya dengan produk konvensional. Padahal, keberadaan produk alternatif ini hadir sebagai salah satu cara yang bisa diambil untuk membantu orang berhenti merokok, sekaligus mempercepat penurunan angka perokok. Jangan mudah termakan fakta yang tidak berdasar, dan selalu ingat untuk mengenali produk yang dikonsumsi! Mengenali produk berarti mengenali risikonya, dan ingat untuk selalu memilih yang lebih rendah risiko.
Sumber: https://www.nhs.uk/better-health/quit-smoking/ready-to-quit-smoking/vaping-to-quit-smoking/vaping-myths-and-the-facts/