Upaya mengurangi ketergantungan akan nikotin sangat penting dilakukan oleh konsumen. Saat ini, masyarakat di sejumlah negara seperti Belgia, Jerman, Belanda, Slovenia, dan Swedia tengah berproses menuju peralihan konsumsi ke produk tembakau rendah risiko seperti vape. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tholos Foundation (2024), mayoritas vapers setuju bahwa mereka menggunakan vape untuk mengurangi dan berhenti merokok.
Kesadaran untuk menurunkan risiko penyakit ini semakin banyak tersebar di negara maju. Menteri Kesehatan New Zealand misalnya, pada 2020 lalu, melakukan kampanye yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan tidak hanya menjadikan vape mudah diakses, tapi juga mempromosikan penggunaannya untuk berhenti merokok. Pemahaman seperti inilah yang juga perlu dibangun di negara-negara yang konsumsi nikotinnya cukup tinggi, seperti di Indonesia.
Meski belum ada penelitian secara langsung di Indonesia, apa yang terjadi di negara lain bisa menjadi contoh nyata. Produk rendah risiko menjadi jawaban dan langkah awal pengurangan konsumsi nikotin. Munculnya produk alternatif ini membuka mata bahwa berbagai pilihan yang tersedia dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membantu perubahan pola konsumsi di masyarakat. Pemanfaatan produk rendah risiko ini harus dimaksimalkan konsumen produk tembakau sebagai salah satu cara yang bisa diambil untuk menumbuhkan terjadinya perubahan perilaku terkait konsumsi nikotin dan produk tembakau.
Penambahan Rasa Berperan Mendukung Pengehentian Konsumsi Rokok
Bentuk vape dengan berbagai penambah rasa turut mendukung upaya penghentian merokok. Hasil penemuan Li, Lin, Ron Borland, dkk. (2021) mengungkapkan bahwa perokok yang menggunakan produk vaping dengan “rasa manis” memiliki kemungkinan 44% lebih besar untuk berhenti merokok dibandingkan mereka yang menggunakan vape rasa tembakau. Sejumlah orang ini juga memiliki kemungkinan untuk tidak menggunakan vape dalam jangka panjang. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa zat perasa pada vape menjadi salah satu faktor utama yang bisa membantu mendorong perubahan pola konsumsi produk tembakau masyarakat.
Hasil penemuan Li, Lin, Ron Borland, dkk. (2021) mengungkapkan bahwa perokok yang menggunakan produk vaping dengan “rasa manis” memiliki kemungkinan 44% lebih besar untuk berhenti merokok dibandingkan mereka yang menggunakan vape rasa tembakau.
Penelitian lain yang dilakukan di Jerman menemukan 83% vapers menilai rasa itu penting dalam keputusan mereka untuk memilih vape sebagai produk yang rutin dikonsumsi. Pun 90% di Belgia dan Swedia, serta 80% responden di Belanda sepakat dengan hal tersebut. Bahkan, dalam studi lebih lanjut pada tahun 2023 oleh London South Bank University, pilihan rasa dalam produk vape meningkatkan peluang keberhasilan penghentian merokok sebesar 55% di antara peserta yang berhenti menggunakan produk vaping.
Variasi rasa ini menjadi jalan keluar bagi perokok yang ingin menurunkan konsumsi nikotin, bahkan berhenti merokok. Rasa buah-buahan dan tembakau dipandang sebagai hal yang paling penting dalam mendorong peralihan dari rokok, sedangkan untuk menghentikan para pengguna vape agar tidak kembali merokok, rasa buah-buahan dan mentol dipandang sebagai hal yang lebih penting. Variasi rasa bukan hanya sebagai ‘penghias’, melainkan memang menjadi salah satu zat yang membantu masyarakat dalam konsumsi produk rendah risiko.

Kesadaran mengenai produk rendah risiko harus terus dibangun di Indonesia. Seperti umum diketahui, berhenti merokok tidak semudah membalikkan telapak tangan. Usaha yang dilakukan dengan beralih ke produk alternatif, sekaligus menemukan pola konsumsi yang tepat juga harus dipelajari. Konsumen tidak serta-merta hanya memilih produk tersebar di pasaran, melainkan menyadari bahwa produk rendah risiko merupakan pilihan tepat dalam mengurangi – bahkan menghentikan – konsumsi nikotin.