Kolaborasi Antar Stakeholder Wujudkan Industri Vape yang Ramah Lingkungan

Minggu lalu, Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2022 diramaikan dengan masalah sampah karena munculnya argumen bahwa puntung rokok sangat mencemari alam. Bukan cuma rokok konvensional, produk turunan tembakau seperti rokok elektrik juga dianggap membawa limbah yang merugikan lingkungan. 

Argumen ini muncul karena kemunculan diskusi mengenai produk vape close system dan disposable pod yang sulit untuk didaur ulang di tengah-tengah publik. Hal ini disampaikan oleh Nancy, selaku Direktur Eksekutif dari The Coalition of Asia Pacific Tobacco Harm Reduction Advocate (CAPHRA). CAPHRA merupakan sebuah aliansi pendukung Tobacco Harm Reduction dengan organisasi-organisasi di kawasan Asia Pacific yang bertujuan untuk mengedukasi dan mewakili suara konsumen. 

Menurutnya, selain baterai bekas pakai dari vaping device, masalah utama saat ini adalah tidak adanya kebijakan yang mendukung.  “Dalam hal ini, yang menjadi masalah adalah masih banyak negara yang tidak memiliki kebijakan yang jelas dan sistematis untuk mengatur proses daur ulang baterai, karena ini membutuhkan teknologi tinggi”, ujar Nancy pada sesi wawancara dengan Tim Inovasi Tembakau (24/05). 

Dari sisi industri pun Nancy melihat bahwa inisiatif dan kesadaran untuk melakukan memulai mengumpulkan sampah-sampah dari limbah vape itu berasal dari komunitas-komunitas kecil. Maka dari itu, peran korporasi besar untuk menginisiasi solusi pengelolaan limbah menjadi sangat penting karena mereka dapat memfasilitasi dengan teknologi yang canggih. Hal ini akan menjadi lebih baik jika mendapat dukungan kerangka regulasi yang jelas. 

“Dibutuhkan kolaborasi yang berkesinambungan antar pemangku kepentingan untuk bisa mendaur ulang sampah bekas vape ini. Terutama, yang harus berperan adalah para korporasi besar dan diatur oleh kebijakan pemerintah,” kata Nancy sebagai kesimpulan.  

Baca juga: Kebijakan Rokok Elektronik Perlu Dikaji Mendalam